Sabtu, 30 Maret 2019

ILMU ALAMIAH DASAR

               KELAHIRAN ILMU ALAMIAH

.
.
Dosen Pengampu:
Minarni, S.Pd., M.Si
Disusun Oleh:
Putri Wahyu illahi
(I1B118009) 
.
.
.

PRODI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI


  



     1.1 Latar Belakang Kelahiran Ilmu Alamiah

          Salah satu kodrat manusa ialah mencari tahu apa yang tidak diketahui, baik itu disadari atau tidak. Keingintahuan manusia tidak terbatas pada keadaan diri manusia sendiri atau keadaan sekelilingnya, dan juga terhadap semua hal yang ada di alam fana ini bahkan terhadap hal-hal yang ghaib. Manusia berusaha mencari jawaban atas berbagai pertanyaan itu dan dari dorongan ingin tahu manusia berusaha mendapatkan pengetahuan mengenai hal yang dipertanyakannya. 'ilmu Pengetahuan berawal pada kekaguman manusia akan alam yang dihadapinya, baik alam besar "macro cosmos'', maupun alam kecil "micro-cosmos''. Di dalam sejarah perkembangan pikir manusia ternyata yang dikejar itu esensinya adalah pengetahuan yang benar, atau secara singkat disebut kebenaran.
     
Sejak dilahirkan di muka bumi manusia bersentuhan dengan alam dan menimbulkan pengalaman. alam memberikan rangsangan kepada manusia melalui panca indera. Jadi panca indera merupakan alat komunikasi antara alam dengan manusia, yang menghasilkan pengalaman. Pengalaman itu satu demi saat bertambah, karena manusa ingin mendapatkan jawaban atau pertanyaan yang hakiki: Apa, Bagaimana, dan Mengapa, baik itu atas kehadirannya didunia ini.  Rangsangan demi rangsangan seperti inilah yang meciptakan pengetahuan, yaitu kumpulan fakta-fakta objek “The bundle of fact”.

Rasa ingin tahu manusia yang terus berkembang sebagai hasil perkembangan pola pikir manusia yang terakumulasi dari hasil pengamatan dan pengalaman telah mendorong manusia untuk melahirkan pendekatan kebenaran yang tidak hanya mengandalkan  kemampuan rasio belaka, dorongan tersebut setidaknyaterdiri dari dua sisi, yakni dorongan pertama untuk memuaskan diri sendrii yang sifatnya non praktis atau teoritis guna memenuhi kuriositas dan memahami tentang hakikat alam semesta dan segala isinya, yang selanjutnya melahirkan Pure Science (Ilmu Pengetahuan Murni).

Pertambahan Pengetahuan terjadi atas 2 dorongan pokok, yaitu:
1.      Dorongan yang bersifat Praktis, yakni manusia sebagai makhluk yang dapat berpikir, berbudi, berperasaan yang selalu berusaha menjadikan hidupnya lebih aman dan tingkatnya lebih tinggi. Dorongan ini menghasilkan ilmu pengetahuan terapan(teknologi).
2.      Dorongan yang bersifat Teoritis, yakni manusia memiliki sifat ingin tau dan mengerti sebenarnya, benar akan objeknya. Dorongan ini menghasilkan ilmu pengetahuan murni.

     1.2 Pendekatan dengan Ilmu Alamiah
    
1.      Penalaran Deduktif (Rasionalisme)
Dengan bertambah majunya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos. Dengan demikian mitos makin kurang disukai dan hanya dipakai untuk memberi keterangan pada anak kecil kalau kita kebetulan terlalu malas untuk memberi keterangan ilmiah yang lengkap atau kalau kita menganggap bahwa anak itu masih terlalu kecil untuk dapat mencerminkan keterangan yang benar.
Menurut A. Comte, dalam perkembangan manusia sesudah tahap mitos, manusia berkembang dalam tahap filsafat. Pada tahap filsafat, rasio sudah terbentuk, tetapi belum ditemukan metode berpikir secara objektif. Rasio sudah mulai dioperasikan, tetapi kurang objektif. Berbeda dengan pada tahap teologi, pada tahap filsafat ini menusia mencoba mempergunakan resionya untuk memahami objek secara dangkal. C.V van Peursen dalam bukunya mengatakan bahwa di dalam mitos manusia terikat, manusia menerima keadaan sebagai takdir yang harus diterima. Lama kelamaan manusia tidak mau terikat, maka manusia berusaha mencari penyelesaian dengan rasio.

2.       Penalaran Induktif (Empiris)

Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain yang berdasarkan pengalaman konkret. Mereka yang mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret ini disebut penganut empirisme. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar ialah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkret. Menurut paham emperisme ini, gejala alam itu bersifat konkret dan dapat ditangkap dengan panca indera manusia. Dengan pertolongan panca inderanya, manusia berhasil menghimpun sangat banyak pengetahuan. Himpunan pengetahuan ini dapat disebut ilmu pengetahuan yang disusun secara teratur dan dicari hubungan sebab akibatnya. Untuk maksud itu perlu dilakukan penalaran.  Penalaran haruslah dimulai dari yang sederhana menuju ke yang lebih kompleks. Di dalam penalaran itu, fakta yang didasarkan atas pengamatan tidak boleh dicampur adukkan dengan dugaan atau pendapat orang yang melakukan penaran.

     1.3 Keterbatasan Ilmu Alamiah

Untuk itu perlu dilakukan pengujian sampai dimana berlakunya metode ilmiah dan dimana metode ilmiah tidak berlaku. Untuk itu kita perlu memperhatikan :
Pertama, Bidang ilmu Alamiah, yang menentukan bidang ilmu alamiah adalah metode ilmiah, karena bidang ilmu alamiah adalah wahana di mana metode ilmiah dapat diterapkan, sebaliknya bidang non ilmiah adalah wahana dimana metode ilmiah tidak dapat terapkan. Contoh hipotesa tentang keberadaan tuhan merupakan konsep yang tidak bisa menggunakan metode ilmiah dan apabila menggunakan konsep ini bisa menyebabkan orang Atheis.
Kedua, tujuan ilmu Alamiah, membentuk dan menggunakan teori. Ilmu alamiah hanya dapat mengemukakan bukti kebenaran sementara dengan kata lain untuk kebenaran sementara adalah "Teori". Karena tidak ada sesuatu yang mutlak tetapi terus mengalami perubahan (contoh teori tentang bumi ini bulat)
Ketiga. Ilmu alamiah dan nilai, ilmu alamiah tidak menentukan moral atau nilai suatu keputusan . Manusia pemakain ilmu alamiahlah yang menilai apakah hasil Ilmu Alamiah baik atau sebaliknya.  Contoh penemuan mesiu atau bom atom.

      1.4 Filsafat Ilmu Alamiah

`      Filosofis ilmu alamiah sebagai dasar pengembangan ilmu mengacu pada nilai yang berkembang sejalan dengan pola pikir manusia dalam bentuk budaya dan norma yang dianut dan menjadi pandangan hidup, untuk itu dibawah ini diuraikan beberapa dasar filsafat ilmu alamiah ;
  1. Vitalisme
Ilmu alamiah awalnya tidak dapat terlepas dari pengaruh kepercayaan atau mitos, filsafat vitalisme merupakan doktrin yang menyatakan adanya kekuatan di luar alam. Kekuatan itu memiliki peranan yang esensial mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. Kekuatan itu dikenal dengan istilah élan vital, Tuhan, yang maha kuasa dll.
  1. Mekanisme
Mekanisme merupakan pandangan yang menyatakan bahwa sebagai penyebab yang mengatur semua gerakan di alam semesta ini adalah sejumlah hukum alam ( nature of law ), dengan demikian menurut paham ini semua gejala alam semesta terjadi dengan sendirinya sesuai dengan hukum alam sehingga pandaqngan ini akan menyamakan antara gejala mahluk hidup dengan mahluk tak hidup sehingga tidak perbedaan yang hakiki diantaranya. Dengan demikian akan menggiring pandangan manusia pada paham materialisme yang kemudian menjadi ateisme.
  1.  Agnotisme
Agnotisme merupakan paham yang tidak mempedulikan ada tidaknya kekuatan di luar alam (sang pencipta, Tuhan, yang maha kuasa, élan vital ). Penganut paham ini hanya mempelajari gejala alam semata, paham ini akan menggiring manusia bersikap sekuler sebagaimana banyak dianut ilmuwan barat.
Indonesia yang menjunjung tinggi falsafah Pancasila yang secara seimbang akan dapat menjembatani antara paham vitalisme dengan mekanisme yang justru peduli pada sang pencipta tidak seperti halnya agnotisme, sehingga pengetahuan alamiah secara seimbang dilandasi dengan pengetahuan keyakinan, Sehingga ilmuwan Indonesia selalu dalam kondisi Teisme.

2.1  Mitos, Kepuasan dan Ketidakpuasan Terhadapnya

Mitos lahir dan diterima oleh masyarakat dikarenakan keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan pemikiran yang  dimiliki oleh masyarakat waktu itu.
Dapat kita ambil contoh pada zaman Babylonia kira-kira 600-700 SM. Masyarakat di zaman itu percaya bahwa alam semesta merupakan suatu ruangan atau selungkup. Bumi itu datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dengan bintang merupakan atapnya. Mereka juga dengan menakjubkannya telah mengenal Ekliptika (bidang edar matahari). Horoskop atau ramalan nasib manusia berdasarkan perbintangan juga berasal dari zaman Babylonia. Masyarakat tersebut dapat menerimanya dikarenakan pengetahuan yang mereka peroleh dari kenyataan pengamatan karena pengalaman tidak terlalu dapat digunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari yang mereka hadapi, karena saat itu pengetahuan mereka belum dapat menjawab mengapa hal itu terjadi.
Lalu saat ini karena kemampuan berpikir manusia makin maju dan disertai pula oleh perlengkapan pengamatan , misalnya berupa teropong bintang yang makin sempurna, maka mitos dengan berbagai legendanya makin ditinggalkanorang. Mereka cenderung menggunakan akal sehat atau rasionya. Semakin lama mitos semakin ditinggalkan orang sebagai alat untuk mencari kebenaran atau untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan alam.

2.2  Perkembangan Pengetahuan dari Masa ke Masa

Perkembangan ilmu terus berkembang menjadi beberapa periode, mulai dari zaman zunani terus berkembang hingga sampai zaman post modern yang masing-masing memiliki karakteristik dan para filosof yang berbeda. Perbedaan karakteristik perkembangan ilmu pengetahuan di setiap periode dikarenakan adanya pola pikir manusia yang mengalami perubahan dari mitos-mitos menjadi lebih rasionil. Manusia menjadi lebih proaktif dan kreatif menjadikan alam sebagai objek penelitian dan pengkajian.
  1. .      Zaman Purba
Pada zaman purba, manusia selain mewariskan alat-alat purba, juga mewariskan cara bercocok tanam dan cara berternak. Peninggalan-peninggalan alat-alat, tanaman, ternak tersebut menunjukkan bahwa manusia purba telah mempunyai pengetahuan untuk memperolehnya. Penemuan-penemuan itu terjadi baik secara kebetulan ataupun disengaja semuanya berdasarkan pengamatan primitif, dan mungkin dilanjutkan dengan percobaan-percobaan yang dilakukan dengan tanpa dasar dan tanpa pengaturan, tetapi dengan mengikuti proses”Trial and error”. Dengan demikian tersusunlah ”know how” meskipun tidak diketahui sebabnya, tidak diketahui ”mengapanya”. Dengan demikian maka zaman batu ini ditandai oleh pengetahuan ”know how” yang diperoleh berdasarkan Kemampuan mengamati, membeda-bedakan, memilih, melakukan percobaan tanpa disengaja, yang berlandaskan dengan proses ”Trial and error”. 
Setelah zaman ini masa 15000 sampai kurang lebih 600 tahun SM. Masih merupakan kelanjutan dari zaman batu. Mereka masih mewarisi pengetahuan dari zaman batu, tetapi diantara mereka ada yang mampu mengolah logam. Dalam hal pembuatan logam, alat-alat mereka tidak lagi terbuat dari batu, melainkan dari perunggu atau besi. Pada zaman purba tersebut manusia menggantungkan diri pada kepercayaan agama yang politistik. Mereka percaya bahwa dewa-dewa berada di bulan, matahari, bintang, karena itu, benda-benda angkasa itu terus-menerus diamati. Dan mereka mulai menyusun kalender sebagai pedoman waktu untuk mengatur kehidupan ritual, pekerjaan sehari-hari dan kehidupan biasa pada umumnya. 
Penemuan-penemuan tersebut di atas merupakan proses alamiah yang hanya mungkin pada zaman itu mencari dan akhirnya menemukan dan mampu menggunakan angka-angka dan abjad untuk melakukan perhitungan-perhitungan. Di samping kemampuan-kemampuan dan penemuan-penemuan tersebut, mereka bisa membentuk kemampuan mengukur, kemampuan ini digunakan untuk mengukur bidang tanah dan perladangan juga mengukur hasil panennya. Untuk keperluan pengukuran-pengukuran tersebut juga telah ditemukan bentuk segitiga, segitiga siku-siku, dan sudut siku-siku. Kemudian ilmu berkembang dan menjelma menadi ilmu hitung (arithmetic) dan ilmu ukur (geometry).
  1.      Zaman Yunani
Masa 600 tahun sebelum masehi sampai kurang lebih 200 tahun sebelum masehi biasanya disebut zaman Yunani. Dalam zaman ini proses-proses perkembangan know how tetap mendasari kehidupan sehari-hari, tapi lebih maju daripada zaman sebelumnya. Dalam bidang pengetahuan sikap dan pemikiran yang sekedar menerima apa adanya, terjadi perubahan besar, dan perubahan ini dianggap sebagai dasar ilmu pengetahuan modern. Hal ini berdasarkan pada sikap bangsa Yunani yang tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman secara pasif receptif. Mereka memiliki ”inquiry atitude” dan ”inquiry mind” orang pertama yang mempertanyakan dasar dari alam dan isi alam ini adalah Thales (624-548 SM). Pemikiran Thales dalam rangka membahas perkembangan ilmu pengetahuan ”Yang penting bukan jawaban yang diberikan, tetapi diajukannya pertanyaan tersebut”. Karena dari pertanyaan akan menimbulkan atau menyebabkan pemeriksaan dan penelitian yang terus menerus. Jadi, pertanyaan merupakan suatu motor yang tetap mendorong pemikiran dan penyelidikan.
Disamping Thales terdapat banyak tokoh filsafat Yunani yang besar sekali sumbangannya pada perkembangan ilmu pengetahuan diantaranya adalah Al-Fargani, Jabir bin Hayyam, Phytagoras, Aristoteles dan Archimedes.
  1.        Zaman Modern
Pada permulaan abad ke-14, di Eropa di mulai perkembangan ilmu pengetahuan. Sejak zaman itu sampai sekarang Eropa menjadi pusat kemajuan ilmu pengetahuan dan umat manusia pada umumnya. Permulaan perkembangannya dicetuskan oleh Roger Bacon (1214-1294) yang menganjurkan agar pengalaman manusia sendiri dijadikan sumber pengetahuan dan penelitian. Copernicus, Tycho Broche, Keppler dan Galileo merupakan pelopor dalam mengembangkan pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman tersebut.
Perkembangan ilmu pengetahuan menjadi sangat mantap dan pesat setelah ditulisnya buku yang berjudul Novum Organum oleh Francis Bacon (1560-1626) yang mengutarakan tentang landasan empiris dalam mengembangkan pengetahuan dan penegasan ilmu pengetahuan dengan metodenya.

 Bila dilihat dari segi metodologi dan psikologi maka seluruh ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada :
a.              Pengamatan dan pengalaman manusia yang terus menerus
b.              Pengumpulan data yang terus menerus dan dilakuakan secara sistematis
c.              Analisis data yang ditempuh dengan berbagai cara.
d.     Penyusunan model-model atau teori-teori, serta penyusunan ramalan-ramalan     sehubungan dengan model itu.
e.              Percobaan untuk menguji ramalan tersebut.


Sumber Referensi:
Drs.Abu Bakar, M.Pd, dan Drs. Fuldiarahman,M.Pd.2010.Ilmu Alamiah Dasar.Jambi:EModul.
Makoeri Jasin.2002.Ilmu Alamiah Dasar.Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
https://www.academia.edu/9701643/Rasa_Ingin_Tahu_Pengertian
https://www.academia.edu/4940855/LAHIRNYA_ILMU_ALAMIAH_A


Catatan:

Makalah ini dibuat dalam rangka untuk memenuhi tugas tengah semester mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar.
Dengan mempelajari Ilmu Alamiah Dasar membawa sangat banyak manfaat bagi saya seperti mengetahui dari mana pengetahuan terbentuk, mengetahui penjelasan ilmiah tentang mitos-mitos yang sering saya dengar dan saya kira hanya larangan dari nenek moyang dahulu. Juga membuat saya lebih berpikir kritis mengenai asal mula dan bentuk alam semesta. Saya juga bersemangat tiap kali menyinggung tentang pembenaran suatu mitos atau pembuktian mitos itu melalui metode ilmiah.

70 komentar:

  1. Terimakasih sangat membantu

    BalasHapus
  2. Saya suka😍 sangat membantu dalam membuat tugas

    BalasHapus
  3. Cukup mantap ☝sangat mantap👈Mantap kaliii👆👆

    BalasHapus
  4. Sangat menginspirasi kk mau dong jd penulis jg kya kakak :*:)

    BalasHapus
  5. Di tunggu post berikut nya yh kak pyuut

    BalasHapus
  6. Bagus dan bermanfaat ,semoga kedepannya ditingkatkan lagi

    BalasHapus
  7. Bagus, lanjutkan agar makin jadi yang terbaik

    BalasHapus
  8. ilmu nya bermanfaat banget. makasih ya

    BalasHapus
  9. Bagus,semangat terus nulisnya put

    BalasHapus

ILMU ALAMIAH DASAR

                KELAHIRAN ILMU ALAMIAH . . Dosen Pengampu: Minarni, S.Pd., M.Si .  Disusun Oleh: Putri Wahyu illahi (I...